Daging merupakan salah satu sumber protein hewani paling populer yang penting bagi tubuh. Namun, sebagai konsumen, kita dituntut untuk semakin jeli. Di balik tampilannya yang segar dan menggugah selera, daging yang beredar di pasaran—baik di pasar tradisional maupun modern—berpotensi menyimpan bahaya tersembunyi yang dapat mengancam kesehatan jangka panjang.
Bahaya pada daging umumnya terbagi menjadi dua kategori utama: zat kimia yang ditambahkan secara ilegal (praktik curang) dan residu dari proses peternakan.

1. Praktik Curang: Formalin dan Boraks
Demi meraup keuntungan lebih, oknum pedagang nakal seringkali menggunakan bahan kimia berbahaya untuk mengawetkan atau memperbaiki tampilan daging yang sudah tidak segar.
- Formalin (Pengawet Mayat): Zat ini digunakan agar daging tidak cepat busuk dan terlihat segar lebih lama. Daging berformalin memiliki ciri khas: teksturnya sangat kenyal dan kaku, warnanya merah pucat namun tidak mengeluarkan darah, dan yang paling mencolok, daging ini tidak dihinggapi lalat karena baunya yang tajam (meski kadang tersamar) ditolak oleh serangga.
- Boraks/Bleng: Sering digunakan untuk memberikan tekstur kenyal yang tidak wajar dan warna yang lebih cerah pada produk olahan daging seperti bakso atau sosis yang tidak berkualitas.
Foto 1: Ilustrasi Daging di Pasar yang Mencurigakan Foto ini menggambarkan suasana pasar di mana terdapat daging yang terlihat sangat merah, kaku, dan “terlalu bersih” dari gangguan serangga, sebuah indikasi visual umum dari penggunaan pengawet kimia seperti formalin.
2. Bahaya Senyap: Residu Antibiotik dan Hormon
Berbeda dengan formalin yang kasatmata, bahaya ini tidak bisa dideteksi hanya dengan melihat atau mencium bau daging.
- Residu Antibiotik: Dalam peternakan intensif, hewan sering diberi antibiotik untuk mencegah penyakit dan memacu pertumbuhan. Jika penggunaan ini tidak terkontrol dan masa henti obat (withdrawal time) sebelum pemotongan tidak dipatuhi, residu antibiotik akan tertinggal dalam daging. Konsumsi daging ini secara terus-menerus dapat menyebabkan resistensi antibiotik pada manusia, membuat kita kebal terhadap obat-obatan saat sakit.
- Hormon Pertumbuhan: Penggunaan hormon sintetis untuk mempercepat pertumbuhan ternak juga dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan hormon pada manusia yang mengonsumsinya dalam jangka panjang.
Foto 2: Uji Laboratorium Keamanan Pangan Untuk mendeteksi residu seperti antibiotik atau hormon, diperlukan uji laboratorium. Foto ini mengilustrasikan proses ilmiah di balik layar untuk memastikan keamanan daging yang kita konsumsi, sesuatu yang tidak bisa dilakukan konsumen di rumah.
Menjadi Konsumen Cerdas
Menghadapi risiko ini, konsumen perlu bersikap proaktif:
- Kenali Ciri Fisik: Belilah daging yang warnanya merah segar (tidak pucat atau terlalu gelap), berbau khas darah segar (bukan bau obat atau busuk), dan teksturnya kenyal alami (kembali ke bentuk semula jika ditekan).
- Perhatikan Lingkungan: Daging segar di pasar terbuka normalnya akan dihinggapi satu atau dua lalat. Jika sama sekali bersih dari lalat, patut dicurigai.
- Beli di Tempat Terpercaya: Prioritaskan membeli di pedagang langganan yang terpercaya atau supermarket yang memiliki standar kontrol kualitas (quality control) dan rantai dingin (cold chain) yang baik.
- Masak Hingga Matang: Meskipun tidak menghilangkan residu kimia, memasak daging hingga matang sempurna sangat penting untuk membunuh bakteri berbahaya seperti Salmonella dan E. coli.
Kewaspadaan saat memilih adalah kunci untuk mendapatkan manfaat gizi daging tanpa mengorbankan kesehatan keluarga.