Keamanan pangan adalah prioritas utama bagi kesehatan keluarga. Sayangnya, di pasaran masih sering ditemukan oknum tidak bertanggung jawab yang menambahkan zat kimia berbahaya ke dalam makanan demi keuntungan semata. Zat-zat seperti formalin (pengawet mayat), boraks (bahan pembuat deterjen/pateri), dan pewarna tekstil (Rhodamin B dan Methanil Yellow) sering disalahgunakan untuk membuat makanan tampak lebih menarik dan tahan lama.
Sebagai konsumen, kita tidak selalu bisa membawa sampel makanan ke laboratorium. Namun, kita bisa menggunakan “laboratorium alami” tubuh kita—panca indra—dan beberapa tes sederhana di rumah untuk mendeteksi ciri-ciri makanan yang mencurigakan.
Berikut adalah panduan untuk mengenali makanan yang berpotensi mengandung zat berbahaya.

1. Uji Organoleptik: Menggunakan Panca Indra
Langkah pertahanan pertama adalah menggunakan penglihatan, penciuman, dan perabaan saat memilih makanan. Makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya seringkali memiliki karakteristik fisik yang tidak wajar.
A. Penglihatan (Warna dan Tampilan Fisik)
Waspadalah terhadap warna yang terlalu mencolok. Pewarna makanan alami biasanya cenderung lebih pudar dan tidak “ngejreng”.
- Pewarna Tekstil (Rhodamin B/Methanil Yellow): Makanan seperti kerupuk, arum manis, atau minuman sirup yang berwarna merah muda terang menyala atau kuning berpendar patut dicurigai. Seringkali warnanya tidak rata dan ada titik-titik warna yang menggumpal.
- Formalin pada Ikan Asin/Segar: Ikan tampak sangat bersih, cerah, dan kaku, namun anehnya tidak dihinggapi lalat sama sekali. Pada ikan segar, matanya mungkin tampak bening tetapi insangnya pucat atau merah tua yang tidak segar.
- Pemutih pada Beras: Beras terlihat sangat putih mengkilap, licin, dan berbau bahan kimia apek.
Gambar 1: Jajanan pasar dengan warna-warna neon yang terlalu mencolok (merah muda, kuning, hijau stabilo) seringkali menjadi indikasi penggunaan pewarna tekstil yang dilarang untuk pangan.
B. Penciuman (Aroma)
Makanan segar seharusnya berbau alami sesuai jenisnya.
- Formalin: Makanan berformalin (mie basah, tahu, ikan) seringkali kehilangan aroma alaminya dan justru tercium bau menyengat seperti obat-obatan atau bahan kimia.
- Boraks: Makanan yang mengandung banyak boraks cenderung tidak berbau atau berbau sedikit basa (sabun).
C. Perabaan (Tekstur)
Penggunaan pengenyal kimia membuat tekstur makanan menjadi tidak wajar.
- Boraks pada Bakso/Kerupuk: Bakso terasa sangat kenyal, keras, dan memantul jika dijatuhkan (seperti bola bekel). Kerupuk terasa sangat renyah tetapi getir di lidah.
- Formalin pada Tahu/Mie: Tahu terasa sangat keras, kenyal, dan tidak mudah hancur. Mie basah terlihat mengkilap, tidak lengket satu sama lain, dan sangat elastis (tidak mudah putus).
2. Uji Sederhana di Rumah
Selain menggunakan panca indra, Anda dapat melakukan beberapa eksperimen sederhana di dapur untuk memastikan kecurigaan Anda.
A. Tes Kunyit untuk Boraks
Kunyit mengandung kurkumin yang akan bereaksi berubah warna menjadi merah kecokelatan jika bertemu dengan boraks (yang bersifat basa kuat).
- Cara: Parut kunyit segar dan ambil airnya, atau larutkan bubuk kunyit dengan sedikit air. Teteskan cairan kunyit ini pada sampel makanan (misalnya irisan bakso, tahu, atau kerupuk yang sudah dihancurkan dan diberi sedikit air).
- Hasil: Jika tetesan kunyit berubah warna menjadi merah bata atau merah kecokelatan, kemungkinan besar makanan tersebut mengandung boraks. Jika tetap kuning, kemungkinan aman.
Gambar 2: Uji sederhana menggunakan air kunyit pada tahu. Perubahan warna tetesan kunyit menjadi merah kecokelatan mengindikasikan adanya kandungan boraks pada tahu tersebut.
B. Tes Air Panas untuk Formalin
Formalin adalah senyawa yang mudah menguap jika dipanaskan.
- Cara: Masukkan sampel makanan (misalnya mie basah atau potongan ikan asin) ke dalam gelas, lalu tuangkan air mendidih. Tutup gelas selama beberapa menit.
- Hasil: Buka tutup gelas dan segera hirup uapnya dengan hati-hati. Jika tercium bau menyengat yang khas seperti di rumah sakit atau laboratorium biologi, patut diduga makanan tersebut berformalin. Makanan alami biasanya hanya berbau uap masakan biasa.
C. Tes Kelarutan untuk Pewarna Tekstil
Pewarna tekstil seringkali tidak larut sempurna dalam air atau minyak.
- Cara: Rendam makanan berwarna mencolok dalam air biasa atau goreng sedikit dalam minyak panas.
- Hasil: Jika dalam air, warnanya cepat luntur dan air menjadi sangat keruh dengan warna yang “ngejreng”. Jika digoreng, minyak akan berubah warna dengan cepat dan tajam. Pewarna makanan alami biasanya lebih stabil dan tidak mudah luntur secara drastis.
Kesimpulan
Meskipun cara-cara di atas bermanfaat sebagai langkah pencegahan awal, hasil yang paling akurat tetap memerlukan uji laboratorium. Namun, dengan melatih kepekaan indra dan melakukan tes sederhana di rumah, kita dapat secara signifikan mengurangi risiko mengonsumsi makanan yang mengandung zat berbahaya. Jadilah konsumen yang cerdas dan kritis demi kesehatan keluarga tercinta.