Setiap kali kita membuka bungkus makanan dari plastik, meneguk air dari botol plastik, atau menghangatkan makan di wadah polimer, hal yang luput dari perhatian yakni plastik dipenuhi senyawa kimia. Saat plastik dibuang, bahaya bahan kimia tersembunyi dalam plastik bisa menembus rantai makanan dan merusak kesehatan manusia serta lingkungan.
Riset terbaru yang terbit di jurnal Nature pada Rabu (9/7/2025) mengungkap bahwa di dalam plastik terkandung lebih dari 16.000 jenis bahan kimia, erta lebih dari 4.200 di antaranya berpotensi berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
Laporan berjudul ”Mapping the Chemical Complexity of Plastics” ini memberi petunjuk tentang peta kimia plastik global, yang selama ini disembunyikan industri.
Kajian ini merupakan hasil kerja kolaboratif para ilmuwan yang bertahun-tahun mencoba membongkar misteri isi perut plastik, yang selama ini dilindungi hak paten, rahasia dagang, dan regulasi yang longgar. Laura Monclús, peneliti dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) di Trondheim, Norwegia, menjadi penulis pertama laporan ini.
Studi ini mencakup bahan kimia yang sengaja ditambahkan selama produksi dan kontaminan yang terdeteksi dalam plastik. Melalui studi ini, Monclús dan tim menyediakan pendekatan ilmiah untuk mengidentifikasi bahan kimia yang perlu diperhatikan dalam plastik.
Plastik seharusnya tak mengandung bahan kimia berbahaya sejak awal. Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahan kimia sengaja digunakan atau tidak sengaja terdapat dalam semua jenis plastik.
Hasil studi tersebut memungkinkan para ilmuwan dan produsen untuk mengembangkan plastik yang lebih aman dan para pembuat kebijakan untuk mendorong ekonomi sirkular yang tidak beracun.
Menurut temuan Monclús dan tim, setidaknya terdapat 4.200 bahan kimia plastik yang mengkhawatirkan karena bahayanya terhadap kesehatan dan lingkungan. Bahan kimia yang mengkhawatirkan ini dapat terdapat dalam setiap jenis plastik utama, termasuk dalam kemasan makanan, dan semua plastik yang diuji dapat melepaskan bahan kimia berbahaya.
”Plastik seharusnya tak mengandung bahan kimia berbahaya sejak awal. Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahan kimia sengaja digunakan atau tidak sengaja terdapat dalam semua jenis plastik. Hal ini mendukung kebutuhan mendesak membuat plastik lebih aman,” kata Martin Wagner, penulis senior studi ini dan profesor NTNU, dalam keterangan tertulis.

Jejak racun tak terlihat
Masyarakat kebanyakan mungkin berpikir bahwa plastik hanya satu jenis material biasa yang sangat bermanfaat dan murah. Faktanya, memang plastik menjadi material multiguna. Padahal, kenyataannya jauh lebih rumit.
Plastik adalah material yang dihuni oleh aditif, mulai dari pelunak, pewarna, pengawet, stabilisator UV, hingga zat anti-api. Masing-masing memiliki peran dalam membentuk fleksibilitas, warna, atau daya tahan plastik, tetapi dengan harga yang tidak kita sadari.
Para ilmuwan dalam studi ini memetakan bahan-bahan seperti PFAS (biasa dijuluki ”bahan kimia abadi”), flame retardants, dan alkilfenol sebagai kelompok paling banyak mengandung risiko. Mereka bisa menyebabkan gangguan hormon, kanker, kerusakan hati, dan memengaruhi perkembangan anak.
Ironisnya, banyak bahan ini digunakan bukan hanya dalam kemasan industri, melainkan juga dalam plastik domestik sehari-hari, seperti sendok hitam sekali pakai, kotak makanan cepat saji, hingga mainan anak-anak.
Paparan plastik tersebut bukan hanya melalui makanan atau minuman, melainkan juga melalui udara, debu rumah, tanah, bahkan air hujan.
Padahal, plastik, dalam bentuk mikro dan nanoplastik, telah ditemukan di plasenta manusia, paru-paru, dan darah. Seiring dengan waktu, partikel kecil ini bisa mengakumulasi berbagai bahan kimia yang tak terlihat, perlahan tetapi pasti masuk ke dalam tubuh kita.