Banyak makanan terbuang, MBG menambah persoalan lingkungan

Selain masalah keracunan dan beban anggaran, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menyisakan persoalan lain, yakni food waste atau limbah makanan.

Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan sisa makanan dari program MBG mencapai 1,1-1,4 juta ton per tahun.

Ironisnya, dari jumlah tersebut, 451-603 ribu ton di antaranya merupakan edible food atau makanan yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi.


Mengapa MBG banyak terbuang?

Saya bersama tim dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan penelitian di 10 sekolah wilayah Kota Bandung dan dan Kabupaten Bandung Barat untuk menelusuri penyebab tingginya sampah makanan program MBG.

Riset kami (belum dipublikasikan) menemukan setidaknya tiga persoalan:

Be the first to receive weekly highlights on Indonesia and the region

Subscribe now

1. Preferensi makanan

Perbedaan preferensi makanan menjadi salah satu penyebab utama anak-anak tidak menghabiskan makanan mereka.

Beberapa menu makanan dalam program MBG kurang disukai anak-anak. Misalnya, sayur-sayuran, telur rebus, buah bertekstur basah (seperti semangka) atau makanan dengan bumbu ringan dan kadar garam rendah.

Meski sehat, menu yang disajikan ini tidak menggugah selera sebagian siswa. Ketidaksesuaian menu dengan selera anak membuat makanan yang disajikan berakhir di tempat sampah.

Kadang anak-anak tidak mau makan kalau menunya selalu sama, sehingga imbasnya kan mubazir ya. Terkadang kita bingung juga, karena ini kan uang negara, uang rakyat tapi dihambur-hamburkan begini. Kalau bisa ya ini diefektifkan, jadi sebisa mungkin menu diperhatikan, sehingga anak lebih semangat makannya.

-Salah satu guru di SMA Kota Bandung.

2. Kesegaran makanan

Persoalan lain adalah kesegaran makanan. Kami menemukan sayur dan buah merupakan makanan yang paling sering berubah tekstur, bau, dan warna ketika hendak disantap anak-anak saat jam makan siang.

Menu MBG
Sisa makanan program MBG. Hasil Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia (2025)

Masalah ini terjadi karena makanan disimpan terlalu lama dan tidak sempat didinginkan setelah dimasak, karena harus segera didistribusian ke sekolah-sekolah. Waktu pengiriman yang cukup lama juga memengaruhi suhu makanan, sehingga kesegarannya menurun.

Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus memasak 2.000 – 3.000 porsi setiap hari, lalu mendistribusikannya ke beberapa sekolah dalam radius sekitar lima kilometer dari dapur.

Untuk memproduksi makanan dalam skala besar seperti ini, menjaga kebersihan, mutu, dan konsistensi setiap makanan bakal sulit.

3. Sistem pengelolaan sampah

Sisa makanan yang terbuang juga belum dikelola dengan baik. Beberapa sekolah ada yang berinisiatif mengelola sampah sendiri.

Dari sepuluh sekolah yang kami datangi, dua di antaranya berkolaborasi dengan jaringan peternak maggot dan peternak lokal lainnya agar sisa makanan bisa dijadikan pakan ternak.

Namun, secara umum, sejak awal memang belum ada antisipasi sistem pengelolaan sampah sisa makanan dalam desain program MBG. Akibatnya, program ini justru menambah beban sampah di sekolah dan lingkungan sekitar.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024 mencatat, total sampah yang dihasilkan di 321 Kabupaten/Kota di Indonesia sudah mencapai kurang lebih 35 juta ton.

Dari jumlah tersebut, tercatat komposisi sampah dari sisa makanan yang paling banyak, mencapai 39-40% selama lima tahun terakhir. Padahal di sisi lain, masih banyak masyarakat miskin yang kekurangan makanan.

Data sampah nasional
Komposisi sampah di Indonesia (2020-2024) Diolah dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (2025)

Strategi mengurangi sampah makanan

Limbah makanan mengakibatkan dampak lingkungan yang serius. Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik akan menghasilkan leachate (lindi), yaitu limbah cair yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya.

Sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga menghasilkan gas metana (CH₄) yang paling parah menyebabkan pemanasan global.

Sekitar 26% dari total emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia berasal dari limbah makanan. Sampah dari MBG tentunya akan menambah jejak emisi yang sudah tinggi ini.